Bismillahirrahmanirrahim,
Ba’da tahmid dan shalawat
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al Hasyr 59 : 18)
العلم ضالة المؤمن حيث وجده أخذه
Hikmah laksana hak milik seorang mukmin yang hilang. Di manapun ia menjumpainya, di sana ia mengambilnya (HR. Al-Askari dari Anas ra)
Suatu saat Rasulullah Saw, pernah mengingatkan kepada para shahabat, yang pengingat itu juga menjadi arahan bagi kita semua kaum muslimin, bahwa mereka yang disebut orang yang cerdas adalah mereka yang selalu berusaha melakukan evaluasi diri dan beramal untuk masa yang jauh kedepan – kehidupan sesudah ajal menjemput.
Ini menyiratkan pesan yang mendalam bagi kita, tidak cukup rencana jangka panjang dalam rentang 5, 10 atau 15 tahun. Tetapi rencana tersebut harus menembus dimensi kehidupan dunia yang fana (sementara) dan kehidupan akhirat yang baqa (abadi). Maka, sudah selayaknya kita bersimpuh luruh dihadapan Allah Swt dan memohon ampun kepada-Nya, jika, bahkan untuk rencana hidup kita (baca: keimanan dan ketakwaan) untuk periode tahun depan belum terbersit sedikitpun rencana dan langkah perbaikan.
Surat Al Hasyr di atas, sangat jelas bermakna perintah bagi orang yang bertakwa untuk selalu melakukan evaluasi atas aktifitas yang sudah, sedang dan akan dilakukan. Apakah semua aktifitas tersebut memberikan investasi positif (pahala) disisi Allah Swt atau bahkan sebaliknya? Maka kemudian Allah Swt, menegaskan kembali kepada orang – orang bertakwa untuk bertakwa. Ini mengandung pengertian bahwa ketakwaan akan terganggu dan beresiko tergerus bahkan hilang dalam diri kita, jika proses evaluasi dan perencanaan untuk perbaikan tidak menjadi prioritas. Kemudian kita diingatkan, bahwa Allah Swt Maha Mengetahui apa yang kita kerjakan. Sebaik apapun kita menutup – nutupi, memberikan kemasan yang menarik, kemudian menambahkan kemasan tersebut dengan informasi yang mengesankan, maka Allah Swt Maha Mengetahui, sebuah pelanggaran atas tuntunan-Nya, pada hakikatnya adalah tetap sebuah pelanggaran, walaupun kebanyakan manusia terlena dengan kemasan tersebut.
Hal ini bermakna sebaliknya. Sebuah keikhlasan mengharap ridho Allah Swt, meskipun tidak menarik, tidak berselimut pujian dan penghormatan manusia, atau bahkan karena ke-alpa-an manusia, dianggap suatu yang tidak up to date, sesungguhnya Allah Swt Maha Tahu, itulah investasi besar yang tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan dunia. Dan sebagian besar manusia, tidak mengetahuinya. Dan kita sebagai manusia yang dhoif (lemah), harus terus belajar untuk mengetahui nilai yang hakiki dan substantif. Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami bahwa yang benar itu adalah benar, dan berikan kekuatan kepada kami untuk mengikutinya. Dan tunjukkan kepada kami Ya Allah, bahwa yang bathil itu bathil, dan berikan kekuatan kepada kami untuk menjauhinya.
Kemudian dalam hadits yang diriwayatkan shahabat Anas Ra, Rasulullah Saw mengingatkan bahwa hikmah : nilai – nilai positif yang bermakna dan mengandung kemanfaatan bagi manusia, adalah hak umat muslimin. Mengapa? Karena umat muslim, memang diajarkan untuk selalu mendapat kebaikan dan kemanfaatan juga memberikannya kepada seluruh umat manusia – rahmatan lil alamin – dimanapun dan kapanpun. Maka, seorang muslim selalu berusaha sekuat kemampuannya (mastatha’tum), mendapatkan hikmah dari setiap episode hidup dan kehidupan.
Tahun baru 1431 Hijriah, yang baru saja kita lewati, penuh dengan hikmah dan pelajaran bagaimana Rasulullah Saw melakukan hijrah, yang secara substansi bermakna menyongsong perbaikan. Setiap tahapan hijrah yang Rasulullah Saw lakukan adalah pelajaran, bagi setiap diri yang menisbatkan dirinya sebagai pembelajar – sampai akhir hidupnya.
Pergantian Tahun baru Masehi akan menjelang. Adalah suatu keniscayaan bagi kita semua, kaum muslimin, mengambil momentum evaluasi dan perbaikan. Yang dengan itu pula bermakna, dalam menyambut tahun baru dan kemudian mengisi lembaran baru, menghindarkan diri kita semua dari melakukan aktifitas yang justeru membuang habis potensi waktu yang Allah Swt berikan kepada kita, dengan kesia – siaan. Tiada ujung kesia- siaan selain penyesalan, dihadapan Sang Maha Penguasa, Allah Swt.
Wallahu’alam bish shawab,

Ir. Dudi Agung RA
MTUA PT. Rekayasa Industri
















