Portal Majelis Ta'lim Ulul Albab

Sunday
May 20th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Update MTUA Artikel Mengisi Kehilangan

Mengisi Kehilangan

E-mail Print PDF

Mengisi Kehilangan oleh Tomy Saleh 

ADALAH bapak Coddy Soerono (salah satu direktur PT. Rekayasa Industri) yang suatu ketika pernah berucap singkat, “Apa yang ada di kita ini semuanya hanya sementara. Nanti akan hilang.”. Kalimat tersebut sederhana, namun memiliki makna yang cukup dalam. Atribut dan predikat yang melekat di diri kita pada hakikatnya cuma sementara. Seorang berpangkat jenderal bintang empat tidak mungkin selamanya aktif jadi jenderal. Ada masanya dia akan pensiun. Seorang anggota parlemen juga tidak mungkin selamanya jadi anggota parlemen yang terhormat. Boleh jadi di pemilu berikutnya ia tidak lagi terpilih. Seorang pegawai negeri sipil juga tidak selamanya menikmati kenaikan golongan berkala dan fasilitas jabatan. Suatu saat dia akan pensiun. Juara dunia lari sprint 100m juga tidak mungkin bisa terus berjaya berlari cepat sepanjang hidupnya. Memasuki usia 40an ke atas, gerakannya akan melambat. Dan begitu ia pensiun jadi atlet, boleh jadi akan terpecahkan rekor baru oleh atlet yang lebih muda darinya yang melampaui prestasinya dulu. Juara dunia badminton di masa tuanya boleh jadi hanya bisa bernostalgia sambil menatap koleksi piala dan medalinya sambil sesekali terngiang di telinganya suara massa yang mengelu-elukannya di masa lalu. Tapi kini di podium telah naik juara dunia baru yang lebih muda dan dielu-elukan oleh massa yang lebih banyak dan lebih gegap gempita. Semuanya cuma sementara. Jika dipikir-pikir dan dirasa-rasa, seolah smeua itu terjadi hanya sekejapan mata. Tiba-tiba kita akan merasakan sudah berada di posisi di mana telah lepas semua gelar, pangkat, jabatan, dan predikat. Telah berlalu semua ‘kemewahan’ tersebut. Sekali lagi, semuanya cuma sementara.  

Harta benda kita pun juga cuma sementara. Hakikatnya harta benda kita itu hanyalah titipan dari Allah SWT. Ada kisah (humor), seorang pria berusaha keras. Dia sukses jadi hartawan. Harta bendanya berlimpah. Bisnisnya sukses. Keluarganya bahagia. Tapi suatu ketika datanglah takdir kematiannya. Ia wafat dalam usia relatif muda. Istrinya jadi janda yang kaya raya mewarisi harta bendanya. Beberapa waktu kemudian, istrinya itu menikah lagi dengan pria lain yang tidak lebih kaya dari dirinya. Jadi, dia bekerja keras membangun kekayaannya, hanya untuk dinikmati oleh istrnya bersama pria lain. Harta benda kita tidak akan selamanya bisa kita nikmati. Boleh jadi suatu saat harta tersebut akan lenyap (dicuri, kebakaran, tenggelam) atau justru kitanya yang ‘lenyap’ (baca: mati) hingga tidak bisa lagi bersama harta itu. Tidak perlu terlalu obsesi dengan penguasaan harta sebanyak-banyaknya dan tidak pula terjebak pada anti harta sama sekali, karena bagaimanapun juga kita butuh harta benda dalam rangka beribadah kepada Allah SWT dan menjadi khalifah di muka bumi. 

Orang-orang tua kita tak bosan menasehati kita agar kita sabar dan ikhlas jika menghadapi kehilangan tersebut sambil memetik hikmahnya. Itu adalah nasehat yang cukup sering kita dengar. Walau (nyaris) klise, tapi nasehat itu (selalu) benar. Rasulullah SAW bersabda, “Hikmah adalah milik orang mukmin yang hilang. Di manapun ia menemukannya, maka ia yang paling berhak mengambilnya.”. Setiap fase kehidupan kita, setiap peristiwa yang kita alami (termasuk kehilangan yang pernah kita rasakan), hendaklah (bisa selalu) kita tanyakan: Kenapa itu bisa terjadi? Ada rahasia apa di balik semua itu? Apa saja sisi negatif dan positinya? Apakah ada hubungannya dengan niat, pemikiran, ucapan, dan tindakan kita? Bagaimana sikap kita? dan apa langkah kita selanjutnya? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu adalah hikmahnya. Jawaban-jawaban tersebut juga bisa dijadikan indikator kedewasaan dan kebijaksanaan kita. Tentu saja diperlukan ilmu (baik tekstual (literatur) maupun kontekstual (pengalaman hidup)) untuk bisa menjawabnya. 

Jika setiap kehilangan, bisa kita ambil hikmahnya, maka itu berarti kita tidak sungguh-sungguh kehilangan 100%, berkaca pada sabda Rasulullah SAW di atas. Karena selalu ada ‘gantinya’ dari kehilangan tersebut dan bisa menambah ‘kekayaan’ kita, yaitu kaya batin. 

Akhir kata, “sahabat boleh hilang dari pandangan mata, tapi persahabatan semogalah ia makin erat adanya hingga akhir dunia.” 

Wallahu a’lam bisshowab. 

Tomy Saleh. Kalibata. 11 Nov 2010. 11:47WIB 

*tulisan ini wa bil khusus untuk Bapak Coddy Soerono dan Bapak Djuniarman Djulkifli 

 
(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung". Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Ali .Imran:173-174)

Polls

Joomla! is used for?
 

Who's Online

We have 21 guests online
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday98
mod_vvisit_counterYesterday178
mod_vvisit_counterThis week98
mod_vvisit_counterLast week1684
mod_vvisit_counterThis month5415
mod_vvisit_counterLast month8779
mod_vvisit_counterAll days224260