Portal Majelis Ta'lim Ulul Albab

Sunday
May 20th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Taujih Pekanan Aku Mau AYAH Bukan BAPAK !

Aku Mau AYAH Bukan BAPAK !

E-mail Print PDF

 (Barkali-kali judul ini saya ganti). Saya takut tidak amanah terhadap Marah. Saya khawatir Marah tidak suka dengan judul ini. Tepat pada suatu hari yang lengang, di ujung jalan Warung Buncit yang panjang, lebar, dan setia, Marah mengangguk setuju akan judul ini. Katanya, apalah arti sebuah judul yang dia juga tidak mengerti dan peduli.

Setelah menyetujui judul, saya kembali lamat-lamat membacakan tulisan ini di depannya. Dia duduk acuh tak acuh. Pandangannya lebih sering menguntit beberapa ekor burung gereja yang bersijingkat di depan kami. Begini cara saya membacakannya.)

Pada suatu hari Minggu, seorang anak lelaki 13 tahun membakar foto bapaknya sendiri lalu menendang-nendang abunya dengan beberapa potong cacian. Ini terjadi di tengah kota Metropolitan, (Baru satu alinea selesai saya bacakan, Marah menatap saya tajam. Hanya sesaat lalu kembali dia tundukkan kepalanya. Mukanya merah. Saya paham betul ada amarah tertahan ketika mendengar suatu kata yang tidak disukainya. Saya lanjutkan.)

Marah, anak kecil dengan pahatan wajah yang sebenarnya sangat menarik itu, selepas bangun pagi yang selalu saja dipaksa dengan kata-kata sinis bapaknya, berlari ke luar rumah. Seperti biasa ketika hatinya dirundung kesedihan, dia segera bersembunyi di bawah semak tidak jauh dari rumahnya. 

Di balik semak itu, dia tahan bersembunyi sambil menangis, sesekali mengintip dan mengawasi setiap kejadian yang ada di rumahnya. Di kantong saku celana kesayangannya yang sudah tua kini tersimpan sebuah foto berukuran post card. Foto ayah dan ibunya ketika melangsungkan pernikahan dulu.

(Marah menatap saya dalam, sekali lagi. Dia menggigit bibir bawahnya. Mengerjap-ngerjapkan mata lelahnya menahan arus air mata yang akan segera tumpah. Saya menahan nafas. Jujur, saya juga mau menangis. Saya tahan untuk mulai melanjutkan lagi.)

Di bawah matahari pagi yang baik, dia mengeluarkan foto pelan-pelan. Sebentar, dia menoleh ke rumah. Pintu rumah terbuka. Lelaki yang sering dipanggilnya "bapak" berjalan keluar. Di belakang bapak, ibu dengan wajah tegang menggamit tangan bapak kemudian menciumnya. Bapaknya pergi, ibu berdiri sebentar. Menghirup napas panjang lalu menghembuskannya buru-buru.

Marah memandangi foto bapak dan ibunya lamat-lamat. Berbagai kejadian berkelabat dalam ingatannya. Ibu, bagi dia adalah tokoh dewasa yang selalu tersenyum  sepanjang hari dalam keadaan terpaksa atau tidak. Ibu memang ahli senyum. Bahkan sangat ahli. Dalam keadaan senang atau tidak. Dalam lapang atau sempit. Ketika bapak marah atau tidak. Kadang-kadang, ibu muncul seperti seorang monster yang menakutkan karena senyum-senyum sepanjang hari.

"Kita harus senyum, Nak!" begitu terang ibu suatu hari. "Karena senyum ibadah. Hanya dengan senyumlah, satu-satunya ibadah yang ibu yakini ibu lakukan dengan ikhlas."

 Di bawahsemak yang garing itu, dia merobek sebagian foto orangtuanya. Foto ibunya dia simpan dengan baik di saku celana. Sebagian foto lain, yaitu foto bapaknya masih tetap dipegangnya dengan tangan gemetar. Matanya mulai memerah. Nafasnya memburu.

(Marah berdiri tegak mematung dengan segera. Saya tidak peduli. Saya meneruskannya...)

Dia sangat benci dengan senyum lelaki dewasa ini. Selama hidup bersama lelaki dewasa ini, tidak pernah ada satu pun perbuatannya yang benar.Tak ada satu kegiatan pun yang lepas dari intaiannya. Hidup seperti pengawasan seorang intel terhadap buronannya. Hidup adalah tugas dan pekerjaan dengan metode paksaan dan tekanan. Hidup adalah penuh pengawasan. Hidup adalah rentetan kesalahan. Hidup adalah eksekusi bukan apresiasi.

Dia membayangkan dan menginginkan seorang bapak seperti ayahnya Nardi, tetangganya. Ayah yang suka bermain, suka tertawa bersama, dan yang tidak suka memvonis, tapi suka berdiskusi. Dia merindukan bapak yang seperti ayahnya Nungki, teman sebangku di sekolah. Ayah yang tak segan nongkrong di warung pinggir jalan, ayah yang suka senyum kepada siapa saja, ayah yang ... tidak seperti bapaknya.

Kraaaakkk!!! Pssstt...!!! Sekali sentak dengan bungkahan air mata yang menderas, foto terbaik bapaknya dirobeknya dan disulut dengan korek api. Sebuah cita-cita sejak lama. "Pembalasan yang seimbang..."  bisik Marah. Meski dia tak bisa menghilangkan rasa takut yang luar biasa, kini dia telah berani keluar semak dengan kepala tegak. Bibirnya terkatup rapat. Gerahamnya bergerak-gerak.

(Saya membaca sambil berdiri. Memegang bahu anak malang yang berguncang-guncang karena tangis yang hebat. Dia memberi isyarat untuk meneruskan ...)

Pintu rumahnya dibuka. Ibu tersenyum. Seperti biasa. Seperti biasa, setelah bapak memarahinya, ibu selalu memberikan  nasihat.

"Nak, ndak baik begitu!" sapa ibu sambil membelai pundaknya. "Lha, dia kan  bapakmu!".

Marah mengelak dan menepis tangan ibu dengan cepat. Seperti gerak Kungfu Soccer atau Kungfu Panda yang sangat disukainya. "Aku mau ayah, bukan bapak!".

(Setelah selesai, Marah menyeberang lalu melompat ke dalam Warung Buncit yang lelah. Saya mengejar, tapi dia sudah sampai diseberang. Dia pun melambaikan tangan dan memberi isyarat untuk bertemu lagi besok. Makasih Marah. Life Is a Choice).

 

... diambil dari salah satu kisah buku "Aku Mau Ayah" karangan Ayah Irwan Rinaldi ...

 
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS Ibrahim:7)

Who's Online

We have 24 guests online
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday91
mod_vvisit_counterYesterday178
mod_vvisit_counterThis week91
mod_vvisit_counterLast week1684
mod_vvisit_counterThis month5408
mod_vvisit_counterLast month8779
mod_vvisit_counterAll days224253