Portal Majelis Ta'lim Ulul Albab

Sunday
May 20th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Sahabat MTUA Pengurus Berkurban: menumbuhkan optimisme dan kepekaan sosial(Imansyah)

Berkurban: menumbuhkan optimisme dan kepekaan sosial(Imansyah)

E-mail Print PDF

Al kisah, sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah dan kedua anaknya yang kesemuanya berprofesi sebagai pendaki gunung sedang mencoba menaklukkan tebing terjal sebuah gunung tinggi, tiba-tiba kecelakaan terjadi. Untungnya, keluarga tersebut masih terselamatkan tali pengaman pendakian. Tapi kondisi mereka genting: seutas tambang harus menanggung beban tiga pendaki sekaligus ayah dan 2 orang anaknya yang bergelantungan di tebing maut. 

Sang Ayah, pendaki yang sangat berpengalaman segera menyadari bahwa tambang itu tidak akan kuat menahan beban tubuhnya besama putra dan putrinya, kedua anak kesayangan nya. Ia pun memerintahkan putranya untuk memotong tambang sehingga beban berkurang. Artinya, sang Ayah merelakan dirinya menjadi korban demi menyelamatkan kedua anaknya. Sang putri protes keras, ia tidak rela ayahnya tewas jatuh terhempas kebawah tebing  demi menyelamatkan dirinya dan saudara laki-lakinya. putranya bimbang, tapi sang Ayah terus mendesak. “Potong tali itu, atau kita mati besama-sama!” triak sang Ayah dengan mantap. 

Sahabat MTUA yang dirahmati Allah, sekelumit kisah tadi terdapat dalam sebuah film lama yang sering diceritakan oleh sahabat penulis yang kebetulan lebih senior, Kisah diatas adalah salah satu dari adegan dalam film tersebut katanya. Adegan yang berkisah tentang pengorbanan diri terhadap sesuatu yang dicintai, dalam film ini adalah anak. Dan penulis yakin pastilah banyak cerita dalam film atau novel yang bercerita dengan kisah yang berbeda namun maknanya sama yaitu pengorbanan pada orang yang dicintainya.

kembali kecerita diatas bisa dibayangkan, situasinya akan lebih rumit kalau urutan tiga pendaki yang tergantung itu berbeda: anak laki-laki paling atas, sang Ayah di tengah, dan di ujung (pihak yang harus dikorbankan) tergelantung putri kesayangannya . Lalu, anak laki-laki yang kemudian menyadari tambang itu tidak kuat menahan beban mereka bertiga.Ia memberitahu ayahnya yang ada di tengah. Apakah sang ayah akan mengorbankan putrinya?  

Sungguh sehebat-hebat daya khayal penulis skenario film, belum tentu bisa berkhayal seperti itu. 

Namun dalam kisah tauladan Nabi Ibrahim, Istri Ibrahim bunda Siti Hajar dan Anak beliau Nabi Ismail kecil yang Allah Abadikan dalam Alquran Surat Ash-Syaffaat ayat 101 – 111, itu adalah pengorbanan yang sungguh luar biasa yang bagi kita Umat muslim yang mengimani Alquran harus mempercayainya bahwa ribuan tahun yang lalu telah terjadi kisah kekuatan keimanan anak manusia dalam melakukan pengorbanan, yang mengorbankan anak yang amat dicintainya untuk dikorbankan atas perintah Alllah, Zat yang paling berhak untuk lebih di cintai karena cintaNYA melebih cinta apapun di kehidupan ini terhadap hambanya. Kejadian ini kita kenal dan umat islam peringati setiap tahun yaitu hari Raya Idul Qurban.

Perhatikanlah betapa menakjubkannya kematangan emosional Ibrahim saat ia sampaikan masalah besar itu kepada sang anak,
(Ibrahim) berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. Ash Shoffat, 37: 102) 

Lalu, apa tanggapan sang anak? Tanpa terkejut atau takut, atau kehilangan kewarasan, Ismail dengan penuh kasih sayang merasakan apa yang dirasakan sang Ayah. Ia turut merasakan bahwa mimpi itu adalah tanda. Pertanda sebuah perintah. Dan itu sudah cukup sebagai bukti untuk dituruti dan dijalani, tanpa banyak bicara, tanpa keraguan, atau penundaan. Dengan sepenuh cinta dan kedekatan pada sang Ayah,
Ia (Ismail) menjawab: “Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash Shoffat, 37: 102)

Dari sisi sejarah, hari Kurban merupakan peringatan atas pengalaman ruhani Nabi Ibrahim AS bersama anaknya, Ismail dan istri beliau, Siti Hajar, Berkurban- yang pada masa Nabi Ibrahim disimbolkan dengan mengorbankan seekor domba, memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang begitu indah dan agung. Diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Ibrahim melalui mimpi yang haq untuk menyembelih anaknya, Ismail. Perintah itu sekaligus ujian bagi Nabi Ibrahim untuk rela mengorbankan anaknya demi memperoleh rida Allah. Dan Nabi Ibrahim berhasil membunuh berhala rasa cinta kepada anaknya demi memperoleh rida Allah, yang kemudian Allah mengganti kurban tersebut dengan seekor kambing. Ini seharusnya menjadi teladan bagi kita karena kecintaan kepada anak yang berlebihan dapat membuat kita berbuat kezaliman-kezaliman sosial, terutama korupsi, kolusi, dan nepotisme, seperti banyak terjadi dalam kehidupan keseharian.  

Hikmah lain dari kisah tersebut adalah ternyata kesediaan berkurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim bermuara pada kepedulian sosial. Artinya, kita harus sadar bahwa perintah kurban bukan sekadar suatu bentuk pelaksanaan ibadah tanpa implikasi sosial yang jelas, melainkan sungguh suatu upaya menciptakan kehidupan masyarakat yang lebih baik. Dengan menyadari tujuan berkurban sembari memahami bahwa pada masa Nabi Ibrahim kambing atau hewan ternak secara umum merupakan simbol kekayaan yang paling tinggi yang dimiliki seseorang, maka pada saat ini semangat berkurban seharusnya jauh melampaui daripada sekadar mengurbankan seekor kambing. Hal ini berangkat dari realitas sosial yang berkembang di masyarakat, yang masih banyak saudara-saudara kita yang hidup di bawah garis kemiskinan karena ketidak beruntungan dan juga bencana, tingkat anak putus sekolah yang tinggi, kualitas kesehatan masyarakat yang rendah, dan realitas sosial lain yang begitu mengkhawatirkan. Dari kesadaran tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kembali rasa optimisme pribadi dan kepekaan sosial menuju kepada cita-cita kemandirian yang berkeadilan.

 Sumber bacaan :

1. Al-Quran & Hadist

2. Portal MTUA

3. PercikanIman

4. Sumber-sumber lainnya

 

 
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS Al Baqarah:45-46)

Who's Online

We have 29 guests online
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday82
mod_vvisit_counterYesterday178
mod_vvisit_counterThis week82
mod_vvisit_counterLast week1684
mod_vvisit_counterThis month5399
mod_vvisit_counterLast month8779
mod_vvisit_counterAll days224244