Portal Majelis Ta'lim Ulul Albab

Sunday
May 20th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Sahabat MTUA Pengurus Menilai Kehormatan ( Tomy Bustomy )

Menilai Kehormatan ( Tomy Bustomy )

E-mail Print PDF

Mengawali tulisan singkat ini, izinkan saya mengutip kata-kata mantan presiden Amerika Serikat, Calvin Coolidge, yaitu No person was ever honored for what he received. Honor has been the reward for what he gave, Tidak ada orang yang mendapatkan kehormatan atas apa yang telah diterimanya melainkan kehormatan itu adalah penghargaan atas apa yang telah diberikannya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu akrab dengan yang namanya ‘kehormatan’ ini. Kita sering dengar atau baca berita mengenai seorang gadis yang hilang keperawanannya karena hubungan seks pre-marital (baik dengan sukarela/free sex maupun dengan kekerasan/pemerkosaan) disebut sebagai ‘kehilangan kehormatannya’. Para anggota parlemen sering disebut (walaupun dengan maksud untuk menyindir) sebagai wakil rakyat ‘yang terhormat’. Seseorang yang diundang presiden ke istana negara sebagai tamu, dikatakan sebagai ‘mendapat kehormatan’. Seseorang yang melunasi hutangnya kadang kala disebut sebagai ‘menebus kehormatannya’. Para orang tua kerap berpesan kepada anak cucunya agar ‘menjaga kehormatan’ diri dan keluarga. Seseorang yang melakukan penistaan terhadap orang lain acap disebut ‘menginjak-injak kehormatan’. Orang-orang yang selalu ingin dipuji sering kita sebut sebagai ‘gila hormat’. Orang yang rela melakukan korupsi pantas pula kita sebut sebagai orang yang ‘menjual kehormatannya’. Kehormatan boleh juga disebut sebagai suatu posisi atau peringkat atau derajat yang terpuji, penghargaan atau dihargai, jauh dari cela. Setiap kita tentunya sangat menjaga kehormatannya, bahkan mendambakan kehormatan yang jauh lebih hebat lagi.  

Namun kehormatan kini lebih sering disandingkan dengan pangkat, jabatan, dan jumlah harta benda yang dikuasai. Semakin tinggi pangkatnya, tinggi jabatannya, tinggi status sosialnya, dan banyak harta bendanya, maka akan semakin dianggap terhormat. Sebagai contoh banyak orang yang berlomba jadi anggota parlemen karena mengira dengan menyandang predikat anggota DPR belaka dia akan mendapatkan kehormatan dan dihormati oleh orang banyak, tidak peduli apakah nanti dia akan berbuat untuk kepentingan rakyat atau tidak. Yang paling penting adalah predikatnya itu. Maka kita pun mendengar banyak kisah money politics, jual beli suara, bahkan juga intimidasi. Ada pula orang-orang yang rela menyerahkan sejumlah uang tunai ke pihak-pihak tertentu untuk menaikkan jabatan atau pangkatnya di suatu instansi atau perusahaan, alias nyogok. Bukan sejuta dua juta, bahkan nilainya bisa menyentuh angka milyaran. Ada juga menilai kehormatan dari jenis (dan jumlah) mobil yang dimilikinya. Naik Mercy dinilai jauh lebih terhormat daripada naik Xenia (maaf menyebut merek). Tinggal di rumah mewah seluas dua hektar bernilai milyaran dirasa lebih terhormat daripada tinggal di rumah tipe 36. Punya uang bermilyar-milyar dianggap lebih terhormat daripada hanya punya uang beberapa juta. Pantaslah banyak praktek-praktek premanisme dan mafia di ranah politik, bisnis, dan birokrasi. Semuanya berupaya mengejar apa yang kerap disebut sebagai kehormatan tersebut. Kehormatan hanya dinilai dari yang tampak saja. Kulit lebih dipentingkan daripada isi. Bungkus melenyapkan substansi. 

Rasanya hanya sedikit yang benar-benar memandang bahwa kehormatan itu adalah dampak dari iman dan ilmu. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu, dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu, maka berdirilah’, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11). Inilah kehormatan substantif. Kehormatan paling hakiki dan (boleh disebut) abadi. Apapun status sosial, apapun pangkat dan jabatannya, berapapun harta yang dimilikinya, selama seseorang memiliki iman dan ilmu, maka ia adalah orang yang terhormat di sisi Allah SWT. Boleh jadi ia bukan orang yang populer di sisi manusia, namun iman dan ilmunya telah menghantarkannya menjadi populer di sisi Allah SWT. Boleh jadi pula, hartanya, pangkat dan jabatannya sudah habis, tapi ia tetap terhormat dan mulia karena iman dan ilmunya. Kehormatan seperti inilah yang sangat layak kita kejar. Tidak perlu penilaian manusia untuk hal yang satu ini. Berbuat terus menerus tak kenal lelah untuk meningkatkan iman dan ilmu kita. Cukuplah Allah SWT saja yang tahu seberapa gigih kita berusaha untuk itu. 

Kemudian, salah satu bukti atau ciri khas orang yang terhormat adalah ia tidak pelit dengan karunia Allah SWT kepadanya. Ia selalu memberi. Sebagaimana ungkapan di awal tulisan ini yaitu, ‘kehormatan adalah penghargaan atas apa yang telah diberikan’. Orang-orang yang rendah dan hina tidak akan mampu untuk memberi karena mereka pada hakikatnya adalah ‘miskin’, yaitu miskin jiwa, sekalipun hartanya dan karunianya berlimpah ruah. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapat kehormatan di sisi Allah SWT dikarenakan iman dan ilmu serta amal. 

Wallahu a’lam bisshowab.

 

 

  

Tomy Saleh. Kalibata. 4 Nov 2010. 16:00WIB 

 

Who's Online

We have 28 guests online
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday81
mod_vvisit_counterYesterday178
mod_vvisit_counterThis week81
mod_vvisit_counterLast week1684
mod_vvisit_counterThis month5398
mod_vvisit_counterLast month8779
mod_vvisit_counterAll days224243