Banda Aceh, apalagi Lhokseumawe, suatu tempat yang tidak ingin aku kunjungi sebelumnya. Itulah yang membuatku akhirnya mengundurkan diri dari tempat kerjaku sebelumnya: BPKP, di mana aku akan ditempatkan di BPKP Banda Aceh pada tahun 2001 silam. Mengapa ? Yah, tahu sendirilah. Saat itu, Banda Aceh sedang bergejolak. Gerakan Aceh Merdeka, atau GAM yang dipimpin oleh Hasan Tiro sedang merajalela. Memang sih, GAM itu lebih banyak beraktivitas di desa-desa kecil dan hutan-hutan di pedalaman Aceh. Tapi, sebagai pegawai BPKP yang kerjanya melakukan audit di luar kantor bahkan di luar kota, mau tidak mau bakal melewati desa-desa mereka. Aku nggak mau dong, jadi tawanan mereka, he…he…
Nah, pada tahun 2003 di mana aku sudah bekerja di PT Rekayasa Industri (Rekind), aku mendapat penugasan audit (sebagai pegawai SPI) di daerah konflik tersebut. Tepatnya melakukan audit PIM2 di Lhokseumawe, Aceh. Akhirnya taqdir Allah yang berlaku dan aku tidak dapat mengelak lagi.
Aku mendengar bahwa para karyawan Rekind yang bekerja di sana telah diasuransikan. Kabarnya per orang dipertanggungkan senilai Rp 100.000.000,00. Sementara aku, tak dipertanggungkan sepeserpun. Belum lagi, mereka juga dilengkapi dengan speed boat, untuk keperluan kabur sewaktu-waktu bila GAM menyerang. Dengan hati berdebar-debar, aku berangkat. Bismillah, Allahu Akbar !
“Toh hari ini adalah hari ke-7 di bulan Ramadhan. Di bulan ini, Allah sangat welas asih terhadap hamba-Nya. Ditambah lagi, bukankah doa orang yang berpuasa diijabah oleh Allah ? Semoga aku mendapat perlindungan dari-Nya,” harapku dalam hati.
Perjalanan ke Banda Aceh berjalan lancar. Dilanjutkan ke Lhokseumawe.
“Jangan pake jalan darat, rawan penghadangan oleh GAM. Apalagi kalau muka dan namanya berbau Jawa. Mereka benci dengan orang-orang Jawa,” kata teman-teman di Proyek PIM2, memperingatkan aku sebelum berangkat.
Untunglah namaku tidak mengandung aroma khas Jawa, lebih cenderung bule atau setidaknya indo-lah (Indonesia maksudnya, he..he..). Amaan. Tapi wajahku kan nggak mirip bule ? Ah, biarlah toh masih ada KTP yang bisa membuktikan keaslian namaku.
Akhirnya kamipun menggunakan pesawat. Sesampainya di Lhokseumawe, kami langsung ke site office, menemui para penanggung jawab proyek di sana. Beberapa prajurit TNI terlihat berjaga-jaga.
Setelah menyampaikan maksud kedatangan kami, Tim Audit dari SPI Home Office dan meminta data awal secukupnya, aku beserta atasanku dan seorang teman ditempatkan di sebuah Mess PIM tak jauh dari Site Office.
Hari itu sudah menjelang maghrib. Di mess PIM tersebut telah tersedia berbagai makanan untuk berbuka puasa. Rupanya telah disiapkan seorang pembantu rumah tangga yang ditugaskan khusus untuk mengurusi konsumsi kami selama di sini. Sesudah waktu berbuka tiba, kami bertiga makan dengan lahapnya. Enak juga masakannya, pikirku.
Malamnya kami melakukan shalat Tawarih bersama-sama dengan penghuni Mess lainnya di masjid dekat situ. Suasana lumayan gelap disertai hujan rintik-rintik. Tapi masjid lumayan ramai saat itu.
Setelah tilawah Qur’an secukupnya aku pergi tidur. Karena udara sangat dingin dan kelelahan, aku tidur cukup pulas dan baru terbangun hampir setengah lima. Itupun dibangunkan oleh beberapa suara (seperti tembakan). Rupanya alarm tak sempat aku bunyikan. Begitu juga dengan teman-teman. Kami bertiga segera makan sahur.
Pada saat kami baru saja makan sahur beberapa suap, terdengar suara Adzan. Astaghfirullah al Adzim. Langsung kami hentikan makan sahur kami. Karena kami tak mau batal puasanya, nasi yang masih di mulutpun terpaksa dikeluarkan lagi dan tanpa minum sama sekali. Waktu itu, jam dinding menunjukkan pukul setengah lima.
Awalnya kami berencana pergi ke Masjid. Tapi cuaca di luar tak mendukung. Hujan sangat lebat disertai angin kencang. Dan lokasi masjid cukup jauh. Ditambah lagi, suara-suara tembakan masih terdengar. Mencekam.
Akhirnya kami putuskan shalat berjama’ah di rumah. Beberapa menit setelah selesai shalat, kira-kira pukul 5 pagi, kami mendengar Adzan lagi. Kok ada Adzan lagi? Apakah mungkin ada masjid lain yang terlambat mengumandangkan Adzan? Tapi kok kayaknya suara Adzannya berasal dari masjid yang dekat Mess. Tapi kenapa muadzin adzan dua kali?
Pagi harinya saat kami bertiga bertugas di site office, kami mendapat kabar bahwa telah ditemukan sesosok mayat di bawah jembatan dengan luka tembak di sekujur tubuhnya. Diduga dia adalah salah seorang anggota GAM. Dan ternyata benar, bunyi dar-der-dor semalam adalah bunyi senapan baku tembak antara TNI dan sekelompok GAM.
Siangnya kami berangkat Shalat Jumat pukul 11:30, mengikuti kebiasaan di Jakarta. Aneh sekali suasana di masjid waktu itu. Sepi. Tak ada orang seekorpun, eh salah, tak ada manusia seorangpun. Ketika jam menunjukkan pukul 12:00, masih tak ada seorangpun di masjid itu selain aku dan teman-temanku. Aku bertanya-tanya dalam hati. Apakah masjid ini memang tidak digunakan untuk Shalat Jumat ? Tapi rasanya tidak mungkin karena masjid ini sangat besar, luas, 2 lantai lagi. Halamannya cukup luas untuk parkir beberapa puluh mobil. Nama masjidnya pun diawali dengan ‘Masjid Jamie’, yang menandakan bahwa masjid tersebut digunakan untuk shalat lima waktu termasuk Shalat Jumat secara berjama’ah.
Menjelang pukul 12:15 barulah 1-2 orang masuk masjid, tapi itupun kelihatannya para marbot masjid yang sedang mempersiapkan perlengkapan untuk Shalat Jumat, seperti mengetes mic, menyiapkan kotak amal, menghidupkan kipas angin, dan menghidupkan tape untuk mengumandangkan alunan firman illahi. Barulah sekitar pukul 12:30, jama’ah mulai berdatangan. Aku merasa lega setelah jama’ah makin banyak dan salah seorang pengurus masjid mulai membacakan pengumuman qobla Shalat Jumat sekitar pukul 12:50. Dan akhirnya Shalat Jumatpun dilaksanakan mulai pukul 12:55. Bagiku, inilah pengalaman pertama kalinya Shalat Jumat dimulai hampir jam 1 siang. Dari seorang jama’ah barulah kami mengetahui bahwa waktu Shalat di Aceh memang lebih lambat kira-kira 30-40 menit dibanding waktu Jakarta.
“40 menit lebih lambat? Tapi kenapa adzan Subuhnya tetap jam 4:30?” Tanyaku keheranan.
“Lho, siapa yang bilang adzan Subuh di sini jam 4:30, Pak?” Katanya lebih heran lagi.
Akhirnya aku ceritakan pengalamanku tadi pagi saat makan sahur yang baru 2 suap nasi dan harus berhenti gara-gara mendengar adzan Subuh. Eh, dia malah tertawa terbahak-bahak. Saat itu aku tidak heran. Biasalah, orang suka tertawa senang kalau ada orang lain yang kesusahan. Menyebalkan !
“Bapak baru pertama kali berkunjung ke sini ya ?” terkanya.
“Ya Pak, baru nyampe kemarin siang,” kataku.“Pasti Bapak dengar adzan kedua setelah yang pertama tadi kan ?” katanya lagi.“Ya Pak. Tapi saya pikir itu adzan dari masjid yang muadzinnya datang terlambat.” Kataku. Dia tersenyum mendengar perkataanku.
“Kita ini tinggal di kompleks PIM yang sangat luas Pak. Dan hanya ada satu masjid di sini. Masjid lain yang terdekat sekalipun tak mungkin adzannya terdengar dari sini karena letaknya jauh sekali. Jadi dua adzan yang Bapak dengar itu berasal dari masjid ini”.
“Lalu, kenapa mesti ada 2 adzan Subuh Pak? Kok seperti Shalat Jumat aja?” tanyaku penasaran.
“Adzan yang pertama itu bukan adzan Subuh Pak, tapi adzan untuk Shalat Tahajud/qiyamul lail, atau bisa juga digunakan untuk mengingatkan kita agar segera makan sahur di Bulan Ramadhan ini. Hal itu biasa dilakukan di Aceh ini. Yang kedua, barulah itu adzan Subuh yang sebenarnya.”
“Jadi, mestinya saya teruskan aja makan sahurnya ya Pak ?” kataku kemudian memberikan kesimpulan atas masalahku sendiri.
“Ya iya dong Pak. Kan belum masuk waktu Subuh, he..he.. Okelah, saya pamit dulu. Assalamu alaikum,” katanya sambil menjabat tanganku.
“Wa alaikum salam warohmatullahi wa barokatuh”, balasku.Allah Karim. Kalau tahu begini sejak awal, pasti aku akan teruskan makan sahurku. Belum minum lagi. Seret nih tenggorokan, he..he…
Sungguh, dua pengalaman yang tak terlupakan, sampai hari ini ….















