Portal Majelis Ta'lim Ulul Albab

Sunday
May 20th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Sahabat MTUA Pengurus Pengalaman Bersama Ramadhan : Puasa melatih kesabaran ( Ahmad Sugandi )

Pengalaman Bersama Ramadhan : Puasa melatih kesabaran ( Ahmad Sugandi )

E-mail Print PDF

Puasa Melatih Kesabaran

oleh : Ahmad Sugandi

Barangkali ini pengalaman Ramadhan yang cukup menarik dan sedikit menggelikan, sehingga cerita ini perlu saya teruskan kepada rekan-rekan muslimun di lingkungan kerja. Beberapa hari yang lalu, tepatnya di awal Ramadhan tanggal 11 Agustus 2010, saya ditelpon oleh salah seorang rekan saya,  seorang dokter gigi yang membuka praktek di depan Islamic Centre Bekasi, yang kebetulan juga memiliki lembaga pendidikan yang diperuntukan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Saya diminta untuk mengisi tausiyah Ramdhan yang diadakan menjelang waktu berbuka puasa.

Acara itu rencananya akan diadakan pada hari Sabtu tanggal 14 Agustus 2010 dan sebagai seorang sahabat dekat, tentu saja saya menyanggupi permintaannya, meskipun pada hari yang sama, siang harinya saya telah ada janji dengan rekan yang lain di daerah Cikarang Barat, yang masih masuk Wilayah Kabupaten Bekasi. Saya pikir Insya Allah masih cukup waktu untuk mengikuti kedua acara tersebut.

Meskipun tidak terlalu sering mengisi acara sejenis, namun ini untuk pertamakalinya saya diminta mengisi tausiyah dihadapan para orang tua yang memiliki anak dengan kondisi keterbelakangan mental/ berkebutuhan khusus.  Saya cukup merasa kesulitan untuk memilih tema yang pas untuk audiens seperti ini,  karena saya tidak mau materi cermah nanti terjebak menjadi bentuk eksploitasi kekurangan anak-anak mereka. Sebaliknya saya juga tidak mau isi ceramah tersebut membiarkan mereka hanyut dan terperangkap dalam kepasrahan total, yang berakibat  juga kurang baik buat perkembangan anak-anak mereka sendiri nantinya. Terpikir juga untuk menyelingi humor, namun saya juga agak risih, khawatir terkesan sebagai bentuk pelarian sesaat atas penderitaan yang tengah mereka alami yang cukup berkepanjangan ini. 

Akhirnya saya harus memilih tema yang cukup aman bagi semua pihak dan saya pikir tema yang tepat untuk itu adalah tema tentang Makna Sabar. Tugas saya selanjutnya ialah harus menemukan persepsi sabar yang tidak melahirkan bentuk kepasrahan semata, tetapi sabar sebagai sesuatu yang menggelorakan dan terus memompa semangat tentunya dalam mendampingi anak-anak dengan kondisi seperti ini. Dari beberapa buku tafsir terjemahan saya menemukan ayat yang secara umum memiliki keeratan dengan kisah yang saya angkat dalam kultum tersebut. Ayat ini terdapat dalam Surat Al Imran ayat 146, yang bercerita tentang bentuk kesabaran para Nabi dan pengikutnya yang bertaqwa dalam menghadapi musibah ujian dari Allah SWT. Pada ujung ayat ini Allah SWT melihat mereka sebagai kumpulan insan yang tidak larut berduka, tidak menjadi lemah dan tidak pula menyerah dalam menghadapi musibah tersebut, sehingga Allah memuji mereka sebagai orang yang sabarnya sangat disukai oleh Allah. 

Ayat tambahan lain yang juga berbicara tentang kesabaran ini terdapat dalam. Surat Al-Maarij ayat 5,  yang mendefiniskan bahwa kesabaran yang disukai Allah adalah kesabaran yag sangat Indah (Fasbir sobron jamilan) yaitu kesabaran yang tidak diiringi dengan keluh kesah. Kesabaran yang tulus yang tidak dibarengi dengan perasaan amarah, maupun sikap-sikap tidak terpuji lainnya. Walhasil,  dengan alokasi waktu tausiyah yang singkat,  saya pikir cukup dengan mengembangkan paparan kedua ayat ini.

Setelah usai mengadakan pertemuan di Cikarang saat pulang kearah Bekasi Barat saya mengalami sedikit masalah yaitu jalan tol yang macet.  Jalur yang biasanya cukup lancar, kini  benar-benar diluar dugaan, sehingga saaya sampai lokasi ceramah jam menunjukan pukul 17.25. Saya lihat wajah-wajah yang hadir itu sedikit menampilkan kekecewaan, saya pikir untung saya membawakan ceramah dengan tema sabar, tema ini juga akan menolong saya untuk memberi stimulant kepada jamaah akan pentingnya sikap sabar, termasuk sabar menunggu saya datang. Ya Allah saya masih bersyukur walau kondisi seperti ini.  Acara tausiah dimulai tepat jam 17.30, setelah mukaddimah saya mulai menjelaskan tentang makna sabar sesuai apa yang telah terencana sebeklumnya. Saya lihat wajah-wajah para orang tua murid mulai menampakan mimik serius menyimak materi ceramah. Saat ceramah berjalan sekitar lima menit, gangguan mulai datang. Anak-anak yang kebanyakan penderita Asutis dan Down syndrom berhamburan berlari kearah saya dan berebut microfon yang saya pegang. Tentu saja beriulang-ulang dengan lembut saya lepas tangan mereka dari microfon tersebut. Tapi penolakan ini tidak membuat mereka jerak, dan terus mengulanginya. Saya mulai melihat orang tua mereka masing-masng ikut membantu anaknya agar kembali ke posisi semula duduk bersimpuh. Tapi hal ini juga tidak berlangsung lama, tindakan penyerobotan ini kembali terulang, dan kali ini jumlahnya makin banyak yaitu sekitar delapan anak. Akhirnya apa boleh buat saya membiarkan mic itu dikuasai mereka, toh saya masih kuat untuk ceramah dengan volume suara yang lebih keras lagi. Celakanya kali ini mereka semua mengulang-ulang berteriak dengan intonasi yang lumayan kacau dan denga posisi mic yang saling rebut.  Tentu saja betapapun saya naikan volume suara tetap saja tidak mampu untuk mengalahkan suara anak-anak itu yang sangat keras dan tidak teratur.

Karena tidak cukup efektif akhirnya saya minta ijin ke panitia untuk menyudahi ceramah ini dan segera menutupnya dengan doa, anehnya ketika saya dengar sebagain ibu-ibu mengiringi doa saya dengan lantunan amin yang lembut, anak-anak itu juga ikut berteriakteriak amin-amin dengan suara yang kurang jelas lafalnya, lagi-lagi amin masal dari anak-anak ini juga membuat pembacaan doa saya kurang konsentrasi.

Ketika selesai berdoa saya hampiri rekan saya pemilik sekolah tersebut, sambil mohon maaf karena tidak bisa maksimal dalam acara kali ini, rekan saya tersebtu mengatakan bahwa ia lupa menceritatakan kalau anak-anak berkebutuhan khusus ini memang hobinya tampil jika melihat pengeras suara seperti mic,  bahkan dia malah minta maaf atas kejadian ini... sambil bercanda dia mengatakan kali ini materi sabarnya bukan hanya untuk para orang tua murid tapi juga buat penceramahnya yah ..ya...sambil menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tak gatal. Saya membenarkan ucarpan rekan ini. Memang semuanya harus sabar. Pikir saya.

 

Who's Online

We have 28 guests online
JoomlaWatch Stats 1.2.9 by Matej Koval

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday80
mod_vvisit_counterYesterday178
mod_vvisit_counterThis week80
mod_vvisit_counterLast week1684
mod_vvisit_counterThis month5397
mod_vvisit_counterLast month8779
mod_vvisit_counterAll days224242