Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah Allah masih memberi ku kesempatan berjumpa dengan Ramadhan 1431 H Ada cerita yang ingin saya sharingkan tentang pengalaman Ramadhan kali ini.
Di Ramadhan kali ini kebetulan saya menjadi koordinator Ramadhan , saya lebih suka menyebut koordinator dibanding ketua karena lebih bersahabat menurut saya, sebetulnya menjadi koordinator Ramadhan di perusahaan besar dengan syiar Dawah yang sangat kuat adalah hal yang diluar perkiraan saya , dari sisi kesiapan saya adalah anak baru di organisasi mtua ( nama singkat majelis taklim di kantor tercinta) saya yakin masih banyak yang lebih cocok dan berilmu dibanding saya, belum lagi ada beberapa amanah yang harus saya kerjakan, mulai dari rutinitas kerjaan ,menjadi panitia Pokja SIM Pusri Holding, mengkoordinir project pribadi penambah penghasilan , hingga dalam waktu dekat saya akan menjadi ayah waktu itu, yang alhamdulillah semua amanah itu relatif dapat saya selesaikan dan secara bersamaan sekarang saya telah menjadi ayah puji syukur alhamdulillah.
Namun demikian bukan menjadi koordinator Ramadhan atau amanah-amanah diatas lainnya yang ingin saya ceritakan disini, tetapi ialah sharing saya beberapa hari sebelum tanggal 28 Ramadhan yang bertepatan dengan Milad saya jika di hitung dengan kalender Masehi 7 September 19xx , beberapa pekan sebelum tanggal tersebut ada sahabat akhwat yang menemui saya melalui dunia maya dengan riangnya sambil berkata ”pak hari ini saya ulang tahun doakan ya semoga sukses sehat dan bahagia dunia akhirat” spontan saya menjawab Alhamdulillah barakillah saudariku semoga apa yang kau doakan dan cita-citakan terkabul oleh Allah , percayalah pada kekuatan doa dan keyakinan semoga apa yang kau doakan dan di yakini di ijabah oleh Allah aamiin”
setelah itu sejenak saya teringat dengan kajian yang dibawakan oleh Ust Taufik Ismail, bahwa di saat kita milad yang popular dengan sebutan Ulang Tahun seharusnya yang di beri selamat adalah Ibu yang melahirkan, tanpa menunda lagi saya langsung mengingatkan kembali bahwa ada yang kurang dengan perkataan saya , ”apa ? ” katanya, saya bilang jangan kau lupa juga saudariku hari ini bukan saja hari milad kita tetapi tepat beberapa tahun yang lalu di tanggal yang sama ibu kita tercinta berdarah-darah, penuh tekanan, berpeluh, bahkan hingga menggigit lidah nya dan itu semua tanpa ia sadari terkadang ia lupa bahwa tenaga wanitanya yang terbatas akan habis dan dia tidak sadar bila ada kesalahan sedikit saja dalam pertolongan medis dan dengan ijin Allah maka nyawanya bisa hilang subhanallah tak terasa dada ini sesak karena cerita itu dan saya yakin sahabat di seberang sana yang sedang menikmati hari miladnya jika hatinya masih baik pasti akan sesak bahkan menangis...., tidak sampai disitu saya kembali bercerita saudari ku masihkan kita bangga dengan kedewasaan kita dihari milad kita dan melupakan beberapa tahun lalu ibu kita meriang-riang kesakitan ? tidak ada jawaban disana namun tak terasa air mata saya yang seharusnya kuat karena saya yang menasehati sudah jatuh ke tampat peraduan barunya di pipi dia jatuh bahkan turun hingga ke dagu, saya usahakan terus bercerita, ” wahai adinda.. (saya agak sok dekat nih dengan memanggil adinda...) titip salam dan doa barakillah pada ibumu di rumah , titip juga untuk mu jika kau mempunyai sedikit rejeki hari ini tolong belikan martabak spesial, pizza spesial, donat spesial, kebab spesial atau apalah makanan kesukaannya dan berikan kepadanya sambil kau bisikkan ibu nanda sayang ibu selamat ya ibu beberapa tahun lalu ibu telah melahirkan aku dengan sukses , entah apa jadinya pada diriku jika beberapa tahun lalu ibu tidak bersungguh-sungguh melahirkan aku” tak terasa semakin deras air mata ini memohon ijin untuk keluar dari tempat semestinya. Untung waktu itu saya sendiri tidak ada orang yang melihat diriku yang kasar ini menumpahkan emosi berupa air mata , heheheh , setelah itu saya tidak mendapat respon lagi dari sahabat ku itu entah saya tidak tau mungkin saja dia langsung pulang beli Martabak tuk bunda tercintanya.
Di malam hari ini beberapa hari lagi saya akan mengulang milad , ” assalamualaikum atu oh atu ” kira – kira bunyi suara ringtone hape dengan nada pilem kartun dari negara yang sedang bermasalah dengan indonesia berbunyi, saya angkat hape itu diseberang sana suara wanita paruh baya memberi salam dan saya balas salamnya ( wanita itu ternyata ibu saya) ”iya umi ada apa ?” sapa saya, wanita diseberang menjawab engga kangen saja sama anak umi yang udah seminggu gak umi lihat , mendengar itu sesaklah dada ini, belum lagi saya merecovery kerena menahan tangis , wanita di seberang sana mengatakan sesuatu yang mumbuat nafas ini tida-tiba sesak ” umi sama abu hanya berdua nih dari kemarin saur dan buka puasa hanya berdua, malahan hari ini umi cuma sendirian abu sedang ada kerjaan” sahutnya hanya beberapa penggal kata yang keluar dari suaranya dengan logat khas orang sebrang namun kata-kata itu tiba-tiba membuat saya tak berdaya sambil menangis sayapun memohon maaf kepadanya mendengar saya menangis ibu hanya berkata yah memang begini orang tua nak jika anak-anaknya sudah besar hal ini memang pasti terjadi, walau mengelak kalau seharusnya ini tidak terjadi tetapi memang saya harus menyetujui pernyataan tersebut karena sayapun melakukannya, dengan berusaha tegar saya hanya bilang maaf umi hari ini dan mungkin beberapa hari kedepan iman itikaf di masjid mungkin hari sabtu atau ahad sebentar iman mampir ke rumah gak apa-apa kan mi ? tanya ku ” iya gak apa-apa nak kamu jaga diri ya, jangan lupa makan dan istirahat ” sapanya SIIAP jawabku dengan canda walau bukan tentara namun tubuh tinggi dan muka hitam ini rada cocok lah J ”Assalamulaikum” sapa ibu ku , ”waalaikum salam umi cantik” kembali candaku
malam ini saya teringat lagi dengan kata-kata saya waktu itu kepada sahabat diskusi saya beberapa waktu lalu , membayangkan pengorbanan ibuku yang sekarang aku tinggalkan di rumah hanya berdua dengan ayahku, sedang aku bersama istri dan anakku, malam ini terasa sesak dada ini tak terasa kembali sedikit demi sedikit air mata ini permisi dari tempatnya menuju pipi dan dagu, bahkan jatuh ke bantal, akhirnya aku tidak mau tenggelam dalam kesedihan ini karena mengingat pengorbanan orang tua, mengingat pengorbanan ibu yang luar biasa melahirkan aku, mengingat ayah yang dulu gagah menanti kelahiranku tak terasa beliau sekarang telah keriput dan beruban, aku bangkit mengambil air wudu sholat dua rakaat, tilawah dan berdoa khusus tuk kedua orang tua , kembali aku menangis wah ada apa dengan ku , kenapa mata ini tak bisa menahan air asin ini, bisakah setiap tahun disepanjang hidupku mengucapkan selamat melahirkan aku ibu walau beliau telah terkubur dalam tanah ? ya Allah sungguh besar karunia Ramadhan ini pada diriku , banyak ibrah yang aku terima salah satunya kesan milad ini, subhanallah walhamdulillah Allahuakbar Ya Allah titip doa dan air mata ini tuk bunda dan ayah di rumah atau dimanapun mereka berada
Robbanaghfir lii wa lii waalidayya wa lilmu’miniina yawma yaquumul hisaab“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” [Ibrahim:14]
Selamat Hari Melahirkan Saya Umi - Iman sayang Umi

Imansyah - ICT















