Masa kecil saya di awal tahun 1960-an, dihabiskan di sebuah kompleks militer dipinggiran kota kecil Magelang, Jawa Tengah. Bagi yang tidak mengalami suasana Indonesia kala itu, mungkin sulit untuk membayangkan kondisi negara kita saat itu. Kira-kira potretnya adalah suasana negara dalam kemiskinan dan keterbatasan. Karena ayah saya termasuk anggota tentara dari golongan bawah, maka keluarga kami termasuk dalam kategori keluarga yang tidak pernah makan secara sempurna. Saya tidak ingin bilang kami keluarga miskin, karena entah kenapa kami sekeluarga merasa selalu sangat bahagia kala itu, walaupun sebenarnya tidak memiliki apa-apa.
Lauk yang kami makan biasanya hanya terbatas pada tempe, ikan asin dan sayur bening. Tempe ataupun ikan asin tersebut tidak untuk mendampingi nasi dari beras, tetapi untuk memberikan tambahan kenikmatan kepada Beras Bulgur. Beras Bulgur ini adalah campuran dari ketan dan beras, yang menurut informasi dari sisa makanan ternak kiriman Amerika untuk membantu rakyat Indonesia. Adanya Kecap adalah sebuah kemewahan yang terasa sangat luar biasa. Makan sate ayam-pun hanya kami lakukan setahun sekali, disaat Rudi Hartono memenangkan pertandingan All England di Inggris. Memori makan sate, saat Rudi hartono ini terpatri di otak saya, terutama jika melihat anak-anak saya sekarang dengan mudahnya makan sate dimana-mana.
Walaupun kondisi perekonomian Indonesia sudah sangat menyedihkan, tetapi yang lebih menyedihkan adalah keterbatasan pendidikan agama di kala itu. Mungkin anak-anak Indonesia saat ini tidak terlalu merasakan betapa “hilang”-nya arah pendidikan agama di awal tahun 1960-an. Bagi yang lupa, Bung Karno kala itu menerapkan ideologi Nasakom singkatan dari Nasionalis, Agama dan Komunis. Artinya paham Komunis diterima dan bahkan diajarkan di sekolah-sekolah, termasuk sekolah SD saya.
Salah satu peristiwa yang tidak terlupakan oleh saya adalah cara melakukan pendidikan paham komunis yang diajarkan oleh seorang guru di SD kami. Di dalam ruang kelas, seorang guru wanita memulai mengajarkan berbagai paham komunis, tentang perlunya keseteraan antara golongan kaya (kaum borjuis) dan rakyat miskin (kaum proletar). Serta mengajarkan tentang bahaya pemelukan agama yang bisa membuat orang seperti “kecanduan”, “Lihatlah Bhiksu-bhiksu itu, mereka tidak memikirkan hal-hal lain kecuali berdoa di kuilnya. Itulah bahayanya bila kita kecanduan agama”, kata sang guru. Yang lebih membuat miris adalah cara guru tersebut menghilangkan kepercayaan anak-anak kecil, tentang adanya keberadaan Tuhan. “Cobalah anak-anak sekarang berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk diberi pensil”. Kami lalu semua disuruh oleh sang guru untuk berdoa dengan memejamkan mata. Setelah beberapa lama ia kemudian meminta murid-murid SD di kelas kami untuk membuka mata kita. Lalu guru tersebut melanjutkan, “Jadi tidak ada kan pensil yang diberikan Tuhan ?. Cobalah anda meminta Pensil ke saya. Ini akan saya berikan langsung pensilnya”. Murid-murid SD di kelas kami dibuat semakin bingung. “Nah, jadi Tuhan itu tidak ada kan ?”. kata sang guru berulang-ulang.
Setelah peristiwa G-30-S PKI, kami mendengar dan saling berbisik diantara teman-teman, bahwa sang guru tersebut katanya sudah “diciduk”, karena sudah tidak pernah terlihat lagi.
Tapi itulah background saya. Kisah diatas bukanlah sebagai sebuah “excuse”, tapi lebih sebagai “ketidak-mujuran” kehidupan dibandingkan dengan perkembangan kehidupan anak-anak saya saat ini. Saya melihat bahwa generasi muda Indonesia saat ini, jauh lebih mendapatkan pendidikan agama Islam dengan kualitas yang sangat luar biasa baiknya dibanding dengan yang saya peroleh di awal tahun 1960-an.
Namun diantara ketidak-mujuran pada awal hidup saya itu, ternyata saya memperoleh sebuah “kemujuran” di saat saya dewasa, yaitu disaat saya bisa bekerja di PT Rekayasa Industri. Apa maksud kemujuran tersebut ?. Nah, disaat umur saya mencapai 50 tahun, saya mulai menyadari bahwa hidup itu ternyata adalah sebuah “perjalanan peningkatan”. Peningkatan itu bisa berupa peningkatan materi, peningkatan pengalaman, peningkatan jumlah teman, peningkatan pengetahuan dll. Namun menurut saya yang terpenting sebenarnya adalah peningkatan kedekatan kita kepada Allah SWT dan juga peningkatan amal dan ibadah kita dalam arti yang seluas-luasnya
Saya merasa sangat mujur bisa bekerja di perusahaan, yang membuat saya dari hari ke hari semakin dekat dengan Allah SWT. Mengelola perusahaan ini adalah sebuah tanggung jawab yang sangat luar biasa besarnya dan juga sangat menegangkan kalau difikir secara sederhana. Bayangkan kita terkadang harus mengoperasikan banyak sekali pabrik dan peralatan dengan nilai investasi yang sangat mahal, baik di darat maupun di laut, dengan resiko yang sangat luar biasa besarnya. Namun semakin kita dekat dan semakin kita berpegangan kepada Allah SWT, ternyata terasa sekali akan adanya bimbingan dan tuntunan dariNya. Sehingga tanggung jawab yang di-emban-pun terasa menjadi sangat ringan. Saya sangat mensyukuri akan kemujuran ini.
Di akhir tahun 2009 ini, dan menyongsong tahun 2010, saya merasa sangat bahagia bisa bekerja di perusahaan ini, sehinggga bisa meningkatkan pengetahuan, kemampuan, pengalaman dan jejaring saya. Tetapi yang paling membuat saya sangat bersyukur adalah bahwa saya merasakan adanya peningkatan kedekatan saya kepada Alah SWT, sejak mulai bergabung dan selama saya berbakti di perusahaan ini.
Triharyo Soesilo
Pembina MTUA Rekayasa
CEO PT Rekayasa Industri


















