“Adinda…bangun, Nak!”
Kudengar sayup-sayup suara lembut memerintahkanku untuk terbangun. Berat sekali rasanya mata ini kubuka seakan tak mau melepaskan keindahan mimpiku saat itu.
“Hei! Mau sampai kapan kamu berada di bawah selimut itu?”
Perlahan kubuka sebelah mataku dan tampaklah sebingkai wajah ayu nan cantik tengah memelototiku dengan senyuman manisnya.
“Bentar lagi dong, Bunda. Memangnya udah jam berapa sih sekarang? Masih gelap” jawabku dengan malasnya.
“Sekarang sudah jam 5 lebih, Sayang. Bapak-bapak di kampung kita saja sudah pada pulang solat subuh tuh dari mesjid, Ayah dan kakak-kakakmu juga”, balas Bunda sambil menarik selimut tebal yang membungkus hangat tubuhku.
Terpaksa juga akhirnya aku beringsut ke kamar mandi. Cuci muka, gosok gigi lalu berwudhu untuk solat subuh.
Saat itu usiaku baru beranjak 8 tahun. Aku duduk di kelas 2 Sekolah Dasar saat itu. Aku anak perempuan paling bontot dari empat bersaudara, ketiga kakakku laki-laki semua. Maka tak heran jika di rumah tingkah lakuku sangatlah manja. Tapi, meskipun begitu keadaannya Ayah dan Bundaku sangatlah tegas dalam mendidik anak-anaknya. Dari sebelum aku masuk Taman Kanak-Kanak saja, mereka telah menerapkan berbagai kedisiplinan padaku, terutama kedisiplinan beragama. Bunda memasukkanku ke sekolah khusus pendidikan agama yang ada di dekat rumah dengan alasan agar anaknya memiliki dasar pemahaman agama sejak dini. Dan Bunda pun berharap di kemudian hari, anak-anaknya bisa mengamalkan ilmu agama dalam kehidupan sehari-hari.
Bundaku memang hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Kesehariannya hanya dihabiskan untuk mengurus rumah dan keluarganya. Ayah dan Bunda memiliki empat orang anak, akan tetapi di rumah kami tinggal juga kakak perempuan Bunda beserta dua orang putrinya yang beranjak dewasa. Ua.1 Begitulah panggilanku kepada kakak perempuan Bunda. Ua sudah hidup menjanda sejak anak perempuannya yang kedua berusia satu tahun. Ua dan saudara-saudara sepupukulah yang membantu Bunda di rumah setiap harinya.
Hari itu kebetulan aku sudah libur sekolah karena keesokan harinya merupakan hari pertama puasa Ramadhan. Setelah selesai solat dzuhur kuputuskan untuk pergi ke dapur membantu Bunda dan Ua yang sedari tadi sudah sibuk mempersiapkan munggahan. 2
“Bun, aku bantu apa nih?” tanyaku seraya mengelilingi seisi ruangan dapur.
“Kamu duduk manis saja di ruangan TV sana. Kalo kamu nimbrung di dapur, yang ada masakan Bunda dan Ua gak akan kelar-kelar” sahut Bunda dengan mengacungkan jari telunjuknya sebagai pertanda peringatan padaku yang saat itu sedang asyik memain-mainkan pisau dapur di irisan kentang.
“Iya, kamu duduk-duduk saja Neng geulis. Nanti kalo semua udah selesai barulah kamu icip-icip kesini”, timpal Ua sambil menepuk-nepukkan telapak tangannya yang belepotan tepung.
Masa munggahan memang masa yang sibuk sekaligus menyenangkan bagi para ibu di Indonesia terutama di rumahku tentu saja. Mereka seringkali mempersiapkan makanan-makanan favorit keluarga. Untuk munggahan kali ini, Bunda mempersiapkan menu andalannya yaitu ayam krispi dan sop jamur. Mmmmm…yummy! Apapun masakan bunda akan selalu jadi andalan buatku.
Senang rasanya bila Ramadhan tiba. Selayaknya anak kecil, tingkahku selalu aneh di kala Ramadhan. Aku baru akan bersemangat berpuasa kalo Bunda menjanjikan hadiah menarik untukku atau menu buka puasa yang enak.
Pernah suatu hari, sekitar hari kelima Ramadhan saat itu aku iseng masuk ke dapur siang-siang bolong. Dan uuups! Disana kutemukan Ua sedang makan dodol.
“Ua, lagi ngapain? Kok gak puasa sih, Ua?” tanyaku membuat Ua terkejut mendengarnya. Sampai-sampai Ua mengulum penuh dodol di mulutnya lalu berkata,
“Ua puasa kok, Neng. Ua nyeri hunhu!” 3
(maksudnya nyeri huntu dalam bahasa Sunda yang artinya sakit gigi)
“Bunda…” teriakku memanggil Bunda yang saat itu juga menghampiriku di depan pintu dapur.
“Ada apa siy rebut-ribut tengah hari begini?”
“Tuuuh…”, jawabkau sambil memonyongkan bibir ke arah Ua yang masih sibuk membersihkan tepi bibirnya dengan selembar lap tangan.
“Dinda… Ua memang lagi dibolehkan untuk tidak berpuasa karena Ua lagi ada halangan”, jelas Bunda. “Ua lagi menstruasi, Sayang”
“Apaan tuh, Bun?”, tanyaku mengeryitkan kening.
“Sudahlah, Sayang. Dijelaskan seperti apapun kamu pasti gak akan ngerti. Suatu saat nanti kamu pasti memahaminya”, jawab Bunda berusaha menerangkan kepadaku yang masih saja penuh rasa penasaran.
Hmmm…begitulah…kisahku saat aku masih seorang bocah kala itu. Khususnya di saat Ramadhan. Merasa selalu diliputi kepenasaran akan sesuatu hal yang baru saja kudengar. Sekarang, di usiaku yang menginjak 23 tahun, di saat aku sudah memiliki seorang keponakan perempuan yang lucu. Aku merasakan suatu dejavu 4 (merasakan sesuatu berulang dari masa lalu bahkan masa depan). Terkadang, keponakanku, Nayla, menanyakan hal yang serupa yang dulu pernah kutanyakan kepada Bunda. Tentang alasan mengapa wanita yang sedang menstruasi boleh tidak berpuasa. Saat itu Nayla yang baru berumur 5 tahun memergokiku tengah makan kerupuk di dapur. Padahal saat itu bulan Ramadhan. Mukaku kontan merah padam saat kepergok seperti itu.
Kini, di saat Ramadhan tiba (sudah hampir 3 kali Ramadhan), yang kurasakan hanyalah kehampaan. Jika dulu aku selalu sumringah dengan berbagai keramaian Ramadhan sekarang hanyalah kesepian tanpa hadirnya Bunda. Ya, Bunda memang sudah hampir 4 tahun meninggal dunia. Di rumahku sekarang hanya ada aku dan ayah. Dua orang kakak laki-lakiku telah menikah dan tinggal bersama keluarga kecilnya, sedangkan kakak lelakiku yang kedua telah terlebih dahulu meninggal karena kecelakaan mobil, tepat 2 tahun sebelum Bunda pergi.
Ingin rasanya mengulang cerita-cerita lucu, masa-masa indah di masa lalu. Aku yang dulu selalu merengek tatkala sahur tiba, dan selalu merajuk di saat menu berbuka tidak sesuai dengan harapanku. Bagaimanapun juga, aku tidak boleh kufur karena keadaan ini. Aku masih punya Ayah, satu-satunya harta berhargaku yang masih ada. Aku pun masih punya kakak, keponakan dan keluargaku seperti Ua yang meskipun mereka sudah tinggal di rumah kontrakan bersama suami barunya, Ua masih setia mengunjungiku.
Khususnya Ramadhan ini. Aku bekerja dan tinggal seorang diri di Jakarta. Meninggalkan ayahku seorang diri bersama kakakku yang nomor tiga, yang kebetulan tempatnya bekerja dekat dengan rumah kami. Sunyi rasanya di kala sahur tiba, begitu juga saat berbuka puasa. Hanya sesekali dalam sebulan aku pergi mengunjungi Ayah dan keluargaku di kampung. Jujur, jauh di lubuk hatiku penuh kehampaan. Berjauhan dengan mereka yang kusayangi. Bagaimanapun, aku harus bersemangat menjalani ibadah Ramadhan tahun ini, dengan segala kerinduan yang senantiasa menggunung.

















